Peringkat Bank BJB Turun, Kualitas Kredit Jadi Sorota

JAKARTA – Penurunan peringkat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB/BJBR) dari idAA menjadi idAA- tidak terjadi secara tiba-tiba. Tren memburuknya kualitas kredit telah terlihat dalam laporan keuangan perseroan sebelum PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mengumumkan penurunan peringkat pada September 2026.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian Bank BJB per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross mencapai 2,96 persen.
Rasio tersebut meningkat dibandingkan posisi 2,78 persen pada 31 Desember 2025. Sementara itu, NPL net naik dari 1,21 persen menjadi 1,31 persen.
Kenaikan NPL berlanjut hingga pertengahan tahun. Dalam rilis pemeringkatannya, PEFINDO mencatat NPL Bank BJB telah mencapai 3,3 persen pada Juni 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi 2,2 persen pada akhir 2024.
“Penurunan peringkat mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap profil keuangan Bank, terutama kualitas aset,” tulis PEFINDO dalam publikasi resminya, Minggu (13/9/2026).
Jika rasio NPL sebesar 3,3 persen diterapkan terhadap total kredit bruto Bank BJB yang mencapai Rp140,37 triliun pada Juni 2026, nilai kredit bermasalah secara indikatif mencapai sekitar Rp4,63 triliun.
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan rasio dan total kredit yang dicantumkan PEFINDO, bukan nominal NPL yang disebutkan secara langsung dalam rilis pemeringkatan.
Kredit Bermasalah Meningkat
Laporan keuangan Bank BJB menunjukkan nilai kredit bermasalah secara konsolidasian mencapai sekitar Rp3,81 triliun pada Maret 2026. Jumlah tersebut meningkat dari sekitar Rp3,59 triliun pada akhir Desember 2025.
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit bermasalah terbesar pada Maret 2026 tercatat dalam kategori lain-lain dengan nilai Rp1,32 triliun. Berikutnya adalah sektor perdagangan sebesar Rp1,11 triliun, industri Rp651,53 miliar, dan konstruksi Rp419,74 miliar.
Kredit bermasalah pada sektor pertanian mencapai Rp253,85 miliar. Sementara itu, kredit bermasalah pada sektor jasa dunia usaha tercatat sebesar Rp39,69 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas aset Bank BJB tidak hanya berasal dari satu sektor. Namun, konsentrasi terbesar terlihat pada kategori lain-lain, perdagangan, industri, dan konstruksi.
Kredit dalam Perhatian Khusus Ikut Naik
Tekanan juga muncul dari kredit yang belum masuk kategori bermasalah, tetapi telah menunjukkan peningkatan risiko.
PEFINDO mencatat rasio special mention loans atau kredit dalam perhatian khusus naik menjadi 4,3 persen pada Juni 2026. Sebelumnya, rasio tersebut berada pada posisi 3,8 persen pada akhir 2025 dan 2,7 persen pada akhir 2024.
Peningkatan kredit dalam perhatian khusus perlu mendapat perhatian karena kelompok tersebut berpotensi menjadi sumber NPL baru apabila kemampuan membayar debitur terus melemah.
Di sisi lain, cakupan pencadangan terhadap NPL turun dari 91,6 persen pada akhir 2025 menjadi 85,8 persen pada Juni 2026.
PEFINDO menilai kondisi tersebut “menunjukkan melemahnya cakupan pencadangan di tengah pemburukan kualitas aset”.
Dalam laporan keuangan kuartal I 2026, Bank BJB sebenarnya telah meningkatkan pembentukan cadangan. Beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset keuangan dan nonkeuangan mencapai Rp307,78 miliar, melonjak dibandingkan Rp115,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan pencadangan tersebut ikut menahan kinerja operasional, meskipun laba bersih konsolidasian masih tumbuh.
Bank BJB membukukan laba periode berjalan sebesar Rp519,30 miliar pada kuartal I 2026, meningkat sekitar 2,5 persen dari Rp506,61 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga dan syariah neto juga meningkat dari Rp1,82 triliun menjadi Rp2,05 triliun. Hal ini menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan pendapatan masih terjaga. Namun, sebagian peningkatan pendapatan harus diimbangi dengan biaya pencadangan yang jauh lebih besar.
Bank BJB Siapkan Write-off
Untuk memperbaiki kualitas aset, Bank BJB merencanakan write-off sebesar Rp814 miliar dan memperkirakan pemulihan kredit bermasalah sekitar Rp280 miliar.
Meski demikian, PEFINDO memproyeksikan NPL Bank BJB masih berada pada kisaran 2,8 persen hingga 3 persen dalam jangka pendek.
Dengan demikian, tantangan Bank BJB bukan hanya menurunkan angka NPL melalui penghapusbukuan. Perseroan juga perlu mencegah kredit dalam perhatian khusus berubah menjadi kredit bermasalah serta memperkuat pencadangan untuk menghadapi potensi kerugian.
Peringkat Bank BJB masih berada dalam kategori sangat kuat dengan prospek stabil. Namun, tren kenaikan NPL, peningkatan kredit dalam perhatian khusus, dan menurunnya cakupan pencadangan menjadi sejumlah indikator yang perlu diawasi dalam laporan keuangan berikutnya.











