345 Bencana Terjadi di Jember Sepanjang Semester I 2026, BPBD Waspadai Kekeringan dan Karhutla

JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim yang berpotensi memicu berbagai jenis bencana.
Jika pada musim penghujan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang menjadi ancaman utama, memasuki musim kemarau perhatian BPBD kini beralih pada potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengungkapkan bahwa sepanjang semester pertama 2026 tercatat 345 kejadian bencana di Kabupaten Jember.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 274 kejadian merupakan bencana alam, sedangkan 71 lainnya masuk kategori bencana non-alam.
“Bencana alam paling banyak karena pada saat itu merupakan musim penghujan, sehingga bencana hidrometeorologi mendominasi. Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang menyebabkan rumah maupun pohon roboh,” kata Edy dalam kegiatan Ruang Diskusi Media bertema “Gempa Bumi dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)”, Selasa (1/9/2026).
Salah satu bencana yang menjadi perhatian BPBD selama musim penghujan adalah banjir bandang.
Peristiwa tersebut berdampak pada sejumlah wilayah, mulai dari kawasan hulu Sungai Badean hingga Pakis dan Ambulu.
Bencana yang terjadi pada periode tersebut juga menyebabkan korban jiwa. Tercatat dua orang meninggal dunia akibat bencana di wilayah Pakis dan Curahmalang.
Memasuki musim kemarau, BPBD kemudian meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih.
Hingga 31 Agustus 2026, kekeringan telah ditangani di delapan kecamatan, yakni Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji dan Patrang.
Lebih dari 1.000 kepala keluarga terdampak kondisi tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, BPBD Jember telah mendistribusikan sekitar 507.500 liter air bersih melalui 103 kali pengiriman.
Distribusi air dilakukan berdasarkan hasil asesmen petugas di lapangan serta mempertimbangkan jumlah kepala keluarga yang terdampak di masing-masing lokasi.
“Bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, ada yang tiga hari sekali, ada yang empat hari sekali, tergantung dari jumlah KK terdampaknya,” jelas Edy.
BPBD Jember juga melakukan evaluasi terhadap peta kerawanan kekeringan. Perubahan kondisi di lapangan membuat sejumlah wilayah yang sebelumnya masuk kategori aman kini turut mengalami kekurangan air.
Beberapa wilayah yang sebelumnya berada di zona hijau bahkan mulai terdampak kekeringan, di antaranya Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.
Kondisi tersebut membuat pemetaan kerawanan perlu terus diperbarui agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober, BPBD telah menempatkan 30 tandon air di sejumlah wilayah yang terdampak.
Dari sisi ketersediaan pasokan, BPBD memastikan sumber air masih relatif mencukupi. Air untuk kebutuhan distribusi masyarakat diambil dari enam sumber dengan debit yang dinilai masih cukup melimpah.
Selain kekeringan, ancaman lain yang menjadi perhatian BPBD adalah kebakaran hutan dan lahan.
Hingga akhir Agustus 2026, tercatat kebakaran terjadi di tiga kawasan hutan dan 10 kawasan lahan di wilayah Jember.
Salah satu kejadian terjadi di kawasan Gunung Watangan, Desa Lojejer, dengan luas area yang terdampak sekitar 6,5 hektare.
Penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan Perhutani, Muspika, relawan kebencanaan serta berbagai unsur terkait.
BPBD mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pemilik lahan juga diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan karena api dapat dengan cepat merambat dalam kondisi vegetasi yang kering.












