Kampung Jadul Desa Keting Jember Bikin Pengunjung Nostalgia, Warga Banyuwangi Ikut Berdatangan

JEMBER – Suasana kehidupan tempo dulu kembali hadir di Desa Keting, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember. Kampung Jadul yang digelar pada Minggu (23/8/2026) berhasil menarik perhatian masyarakat, bahkan sejumlah pengunjung rela datang dari luar daerah untuk merasakan langsung nuansa masa lalu.
Tidak hanya warga Jember, pengunjung dari Banyuwangi hingga Surabaya turut datang menikmati berbagai sajian dan suasana yang mengingatkan pada kehidupan masyarakat zaman dahulu.
Salah satunya Sunito, warga Kabupaten Banyuwangi, yang sengaja datang karena penasaran dengan konsep Kampung Jadul.
“Saya datang jauh-jauh karena ingin melihat langsung Kampung Jadul ini. Suasananya mengingatkan kita pada kehidupan zaman dulu, terutama ketika melihat penerangan damar ublik dan berbagai makanan tradisional,” ujar Sunito.
Menurutnya, Kampung Jadul bukan sekadar menghadirkan hiburan. Kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada generasi sekarang untuk melihat kembali kehidupan masyarakat pada masa lalu yang mungkin hanya mereka dengar dari cerita orang tua.
Damar Ublik Hadirkan Suasana Tempo Dulu
Kampung Jadul digagas oleh PSK (Peduli Sesama Kita) yang diketuai Cak Tolo. Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi upaya melestarikan tradisi dan mengenalkan kembali budaya serta kuliner tempo dulu.
Nuansa masa lalu semakin terasa ketika malam tiba.
Penerangan menggunakan damar ublik, lampu tradisional berbahan bakar minyak tanah, membuat suasana kampung menjadi temaram. Cahaya dari lampu tersebut seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika listrik belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selain penerangan tradisional, pengunjung juga disuguhi berbagai makanan dan jajanan khas tempo dulu.
Beberapa di antaranya adalah klepon, sawut, nasi karak, serta berbagai kuliner tradisional lainnya.
Bagi sebagian pengunjung, makanan tersebut bukan sekadar hidangan. Jajanan itu menjadi pengingat terhadap kenangan masa kecil yang kini semakin jarang ditemukan.
Ketua PSK, Cak Tolo, mengatakan Kampung Jadul di Desa Keting tahun ini merupakan pelaksanaan yang keempat.
Namun, pelaksanaan tahun ini dibuat berbeda dibandingkan kegiatan sebelumnya.
Jika sebelumnya konsep Kampung Jadul lebih banyak menampilkan suasana dan kuliner tempo dulu, tahun ini penyelenggara turut menghadirkan berbagai kesenian dan kebudayaan.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar, masyarakat umum, hingga RT dan RW.
“Kampung Jadul ini sudah yang keempat kalinya. Yang membedakan tahun ini, kami juga menampilkan kesenian dan kebudayaan yang melibatkan siswa-siswi mulai sekolah dasar, masyarakat umum, serta RT dan RW,” jelas Cak Tolo.
Keterlibatan berbagai kelompok masyarakat membuat Kampung Jadul tidak hanya menjadi ruang nostalgia, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Mengenang Perjuangan Orang Tua
Cak Tolo menjelaskan, Kampung Jadul tidak hanya dibuat untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Di balik konsep tersebut terdapat pesan untuk mengingat kembali perjuangan orang tua pada masa lalu.
Kehidupan yang serba terbatas membuat orang tua zaman dahulu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membesarkan anak-anak mereka.
“Selain menyambut HUT RI ke-81, Kampung Jadul ini juga untuk mengenang betapa susah payahnya orang tua kita dahulu. Mereka bekerja keras untuk menghidupi dan membesarkan anak-anaknya, meskipun saat itu kehidupan masih serba kekurangan,” ujar Cak Tolo.
Pesan tersebut menjadi salah satu alasan Kampung Jadul tidak sekadar menghadirkan dekorasi lawas atau makanan tradisional. Kegiatan ini juga mengajak pengunjung untuk melihat kembali nilai-nilai yang melekat dalam kehidupan masyarakat dahulu.
Kesederhanaan, gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian dari suasana yang ingin dihidupkan kembali.
Pengunjung Rela Datang dari Banyuwangi dan Surabaya
Daya tarik Kampung Jadul rupanya tidak hanya dirasakan masyarakat sekitar.
Kehadiran pengunjung dari Banyuwangi dan Surabaya menunjukkan bahwa konsep wisata nostalgia berbasis tradisi masih memiliki daya tarik tersendiri.
Mereka tidak hanya datang untuk melihat makanan atau dekorasi tempo dulu, tetapi ingin merasakan suasana kehidupan yang mungkin sudah tidak banyak ditemukan dalam keseharian.
Bagi Sunito, perjalanan dari Banyuwangi menuju Desa Keting terbayar setelah melihat langsung suasana Kampung Jadul.
Cahaya damar ublik, jajanan tradisional, serta berbagai kesenian yang ditampilkan menjadi pengalaman tersendiri.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Kampung Jadul Desa Keting menjadi pengingat bahwa masa lalu bukan sekadar cerita.
Dari penerangan sederhana hingga makanan tradisional, berbagai unsur tersebut menyimpan kisah tentang kehidupan generasi terdahulu.
Kampung Jadul akhirnya menjadi ruang pertemuan lintas generasi—mengajak generasi tua bernostalgia sekaligus memberi kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal kehidupan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat.
Bukan kemewahan yang ditawarkan, melainkan kesederhanaan yang mengingatkan kembali arti kebersamaan.













