UNEJ Kembangkan Literasi Berbasis Kearifan Lokal dan Ekologi di Lereng Argopuro

red

JEMBER, 12 September 2026, Universitas Jember (UNEJ) mendorong pengembangan literasi masyarakat berbasis kearifan lokal dan ekologi melalui penggalian cerita, tradisi, serta pengetahuan masyarakat di kawasan lereng selatan Gunung Argopuro.

Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Gio Pramanda Galaxi, S.S., M.A., dosen Program Studi S1 Sastra Indonesia UNEJ, bersama Rumah Tunjung Indonesia di Desa Panti, Kabupaten Jember.

Kegiatan bertajuk “Pengembangan Literasi Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dan Ekologi melalui Sastra dan Cerita Komunitas” itu tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis menulis.

Masyarakat juga diajak mengidentifikasi pengetahuan, pengalaman, dan tradisi yang berkembang di lingkungan mereka untuk kemudian didokumentasikan dalam bentuk cerita maupun karya sastra.

Salah satu pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut adalah tradisi masyarakat dalam menjaga sumber mata air.

Untuk menggali lebih jauh mengenai tradisi tersebut, kegiatan menghadirkan Muhammad, juru kunci Sumber Tunjung, Desa Panti. Ia membagikan pengetahuan mengenai tradisi dan ritus yang berkembang di tengah masyarakat lereng selatan Gunung Argopuro.

Salah satu tradisi yang diperkenalkan adalah Tilik Sumber, yakni tradisi yang berkaitan dengan penjagaan sekaligus penghormatan terhadap sumber mata air.

Menurut Muhammad, Juru Kunci Sumber Tunjung, Desa Panti mengatakan Tilik Sumber mencerminkan hubungan masyarakat dengan sumber air yang tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga memiliki nilai budaya dan tanggung jawab sosial.

“Tilik Sumber merupakan bagian dari tradisi masyarakat untuk menjaga sumber mata air. Masyarakat datang untuk melihat dan memperhatikan kondisi sumber, karena sumber air ini menjadi bagian penting bagi kehidupan. Ada nilai penghormatan dan tanggung jawab yang diwariskan dari generasi ke generasi.”ujarnya.

Tradisi tersebut menjadi contoh bahwa pengetahuan mengenai lingkungan telah berkembang dalam kehidupan masyarakat melalui pengalaman dan kebudayaan yang diwariskan antargenerasi.

Pengetahuan itu kemudian dapat dikembangkan menjadi bahan cerita maupun karya sastra. Dengan cara tersebut, tradisi yang selama ini hidup dalam praktik masyarakat dapat didokumentasikan sehingga lebih mudah dipelajari oleh generasi berikutnya.

Dosen Program Studi S1 Sastra Indonesia UNEJ, Gio Pramanda Galaxi, mengatakan pengembangan literasi masyarakat dapat dimulai dari berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Literasi masyarakat tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Lingkungan, kebudayaan, pengalaman, dan cerita yang ada di sekitar justru merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya,” ujarnya.

Gio menambahkan, sastra dapat menjadi salah satu medium untuk mengolah pengetahuan tersebut menjadi cerita yang memiliki nilai budaya sekaligus membangun kesadaran ekologis.

“Melalui sastra, semua itu dapat diolah menjadi cerita yang memiliki nilai budaya sekaligus membangun kesadaran ekologis,” imbuhnya.

Menurut Gio, tradisi lokal seperti Tilik Sumber menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki pengetahuan ekologis yang terbentuk melalui pengalaman dan kebudayaan.

Pengetahuan tersebut, lanjutnya, perlu didokumentasikan agar tidak hilang dan dapat dipahami oleh generasi berikutnya.

“Tradisi seperti Tilik Sumber menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dengan lingkungan telah memiliki nilai dan pengetahuan yang diwariskan. Karena itu, penting untuk merekamnya dalam berbagai bentuk, termasuk melalui cerita dan karya sastra,” tuturnya.

Dalam program tersebut, Rumah Tunjung Indonesia menjadi mitra sekaligus ruang pelaksanaan kegiatan literasi masyarakat.

Irham Fidaruzziar, Founder Rumah Tunjung Indonesia, mengatakan Rumah Tunjung berupaya menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar, bertukar pengetahuan, dan mengembangkan gagasan yang berasal dari lingkungan sekitar.

“Rumah Tunjung hadir sebagai ruang bagi masyarakat untuk belajar, bertukar pengetahuan, dan mengembangkan gagasan,” katanya.

Menurut Irham, kolaborasi dengan UNEJ membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali potensi cerita, budaya, dan lingkungan yang selama ini berada di sekitar mereka.

“Kehadiran UNEJ melalui kegiatan pengabdian ini memberikan ruang untuk melihat kembali bahwa cerita, budaya, dan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi sumber literasi dan karya,” imbuh Irham.

Kemitraan tersebut diharapkan dapat berlanjut melalui berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan penulisan, penggalian cerita lokal, dokumentasi tradisi, hingga pengembangan dan publikasi karya masyarakat.

Pengangkatan tradisi Tilik Sumber dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan dan ekologi.

Cerita mengenai sumber mata air tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga merekam nilai, ingatan, pengalaman, serta hubungan masyarakat dengan ruang hidup mereka.

Melalui proses literasi, berbagai pengetahuan tersebut dapat dituliskan dan didokumentasikan. Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya bertahan melalui ingatan dan praktik masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Kegiatan pengabdian UNEJ bersama Rumah Tunjung Indonesia ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat literasi masyarakat dengan menjadikan lingkungan dan kebudayaan lokal sebagai sumber pengetahuan.

Bagi masyarakat di kawasan lereng selatan Gunung Argopuro, tradisi seperti Tilik Sumber menunjukkan bahwa nilai pelestarian lingkungan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya.

Karena itu, pengembangan literasi tidak berhenti pada kemampuan menulis. Masyarakat juga didorong untuk mengenali, merekam, dan menjaga pengetahuan yang telah hidup di lingkungan mereka.

“Cerita masyarakat pada dasarnya merupakan bagian dari ingatan bersama. Ketika cerita tersebut ditulis dan didokumentasikan, kita tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga ikut menjaga pengetahuan dan kebudayaan yang ada di dalamnya,” pungkas Gio.

logo media republik
jurnalis mediarepublik
jurnalis mediarepublik
denis aff
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup