Mahasiswa UNEJ Teliti Kearifan Lokal Nelayan Puger, dari Bintang Talu-talu hingga Tanda Tsunami

red

JEMBER – Jauh sebelum kompas dan teknologi navigasi digital digunakan secara luas, nelayan di pesisir Puger, Kabupaten Jember, telah memiliki pengetahuan tradisional untuk membaca arah, menentukan waktu, hingga mengenali tanda-tanda alam saat berada di tengah laut.

Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun tersebut kini menjadi objek penelitian lima mahasiswa Universitas Jember (Unej) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).

Penelitian itu mengangkat tema “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi untuk Penguatan Literasi Sains dan Kesiapsiagaan Bencana Bermuatan Kearifan Lokal Pesisir Puger.”

Tim peneliti terdiri atas Shofiyatul Lailiyah, Ina Frebianti, Mabruroh, Aziziyatur Rahmah, dan Auri Letha Azzura Wijaya dari Program Studi Pendidikan Fisika dan Pendidikan Geografi. Penelitian tersebut dibimbing Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd.

Rangkaian penelitian berlangsung sejak Juni hingga September 2026. Tahap awal dilakukan melalui penelitian kualitatif untuk menggali pengetahuan serta praktik masyarakat pesisir Puger sebelum hasilnya dikembangkan menjadi media pembelajaran dan diterapkan di sekolah.

Mengungkap Navigasi Tradisional Nelayan Puger

Salah satu temuan menarik diperoleh dari wawancara mendalam yang dilakukan pada 25–26 Juni 2026.

Tim mewawancarai 10 informan yang terdiri atas tujuh nelayan senior dengan pengalaman melaut lebih dari 20 tahun, nelayan aktif dari generasi lebih muda, serta seorang tokoh masyarakat yang memahami sejarah dan makna tradisi Petik Laut.

Dari wawancara tersebut, peneliti menemukan bahwa nelayan Puger sejak dahulu memanfaatkan benda-benda langit sebagai bagian dari navigasi tradisional.

Salah satunya adalah rasi bintang yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Talu-talu. Rasi tersebut terdiri atas tiga bintang yang terlihat tersusun lurus dari arah timur ke barat.

Bagi nelayan, keberadaan Talu-talu tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, tetapi juga menjadi salah satu penanda waktu ketika teknologi kompas belum digunakan. Bintang tersebut biasanya lebih mudah diamati ketika cahaya bulan tidak terlalu terang.

Selain membaca posisi bintang, nelayan Puger juga mengandalkan arah angin dan pola gelombang laut untuk memperkirakan posisi perahu.

Pada musim angin timur, misalnya, gelombang umumnya datang dari arah tenggara. Gerakan kapal ketika menghadapi atau melintang terhadap gelombang dapat membantu nelayan memperkirakan arah perahu.

Bahkan, karakteristik gelombang juga menjadi petunjuk kondisi geografis di sekitar laut. Gelombang yang pecah dalam ukuran kecil dapat menjadi tanda adanya pulau atau daratan yang berfungsi menahan gelombang.

Kalender Jawa dan Posisi Bulan Jadi Acuan Melaut

Pengetahuan tradisional nelayan Puger juga berkaitan dengan penanggalan bulan.

Berdasarkan hasil wawancara, bulan ke-7 dan ke-8 dalam kalender Jawa umumnya dianggap sebagai periode yang relatif aman untuk melaut karena kondisi gelombang cenderung lebih tenang.

Sebaliknya, bulan ke-5 dan ke-6 dikenal sebagai periode dengan angin dan gelombang yang lebih besar. Dalam kondisi tertentu, nelayan bahkan dapat memilih tidak melaut hingga sekitar 10 hari berturut-turut.

Posisi bulan juga menjadi salah satu acuan untuk membaca pasang dan surut air laut. Kondisi tersebut kemudian digunakan nelayan sebagai patokan untuk menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan dari melaut.

Bagi tim peneliti, pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pesisir memiliki cara tersendiri dalam memahami fenomena alam yang berkaitan dengan ilmu fisika, astronomi, dan kelautan.

Kearifan Lokal untuk Mengenali Ancaman Tsunami

Pengetahuan masyarakat Puger tidak hanya berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, tetapi juga mencakup kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Salah satu tanda alam yang dikenali masyarakat adalah surutnya air laut secara tiba-tiba dan drastis. Kondisi tersebut dipahami sebagai salah satu tanda yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi indikasi terjadinya tsunami.

Dalam situasi tersebut, masyarakat pesisir diarahkan untuk segera menyelamatkan diri menuju tempat yang lebih tinggi.

Salah satu informan, Burhan, menyebut masyarakat pesisir saat ini juga memperoleh dukungan teknologi peringatan dini dari pemerintah.

Informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi pelengkap bagi pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan antargenerasi.

Perpaduan antara pengetahuan tradisional dan sistem peringatan dini modern tersebut dinilai penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana di kawasan pesisir.

Peneliti Ikuti Tradisi Petik Laut

Selain melakukan wawancara, tim peneliti juga melakukan observasi langsung terhadap tradisi Petik Laut yang digelar masyarakat Puger pada 30 Juni 2026.

Menurut Burhan, Petik Laut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas rezeki yang diperoleh dari laut. Tradisi tersebut juga mencerminkan akulturasi budaya Hindu dan Islam yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat pesisir Puger.

Nelayan Puger
Foto: Tim PKM-RSH Astro-Oceanografi berdiskusi dengan nelayan Puger.

Dalam prosesi Petik Laut, masyarakat melarungkan sejumlah sesaji ke laut, antara lain kepala sapi, bunga, dan aneka bubur. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap “penjaga laut” sekaligus harapan agar kondisi laut tetap bersahabat bagi para nelayan.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Kegiatan diisi dengan khataman Al-Qur’an, tahlil bersama masyarakat, kirab budaya, pagelaran wayang kulit, hingga prosesi puncak berupa pelarungan sesaji ke laut.

Bagi tim mahasiswa, observasi tersebut menjadi bagian penting dalam mengumpulkan data lapangan. Mereka tidak hanya mempelajari aspek budaya, tetapi juga melihat hubungan antara tradisi masyarakat, pengetahuan terhadap alam, dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi lingkungan pesisir.

Kearifan Lokal Jadi Bahan Pembelajaran Fisika

Hasil penelitian kualitatif tersebut selanjutnya akan menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan media pembelajaran fisika berbasis eksplorasi astro-oceanografi.

Konsep pembelajaran nantinya akan dikaitkan dengan kehidupan nyata masyarakat pesisir sehingga materi fisika tidak hanya dipahami secara teoritis di ruang kelas.

Pengetahuan nelayan mengenai posisi bintang, arah angin, gelombang, pasang surut, hingga tanda-tanda tsunami dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan konsep-konsep sains kepada siswa melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka.

Tim berharap kearifan lokal yang selama ini banyak diwariskan secara lisan dapat terdokumentasi dan dikenal lebih luas.

Lebih dari itu, pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat literasi sains sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan bencana generasi muda, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Puger.

Dengan pendekatan tersebut, kearifan lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dan tantangan masyarakat pesisir saat ini.

logo media republik
jurnalis mediarepublik
jurnalis mediarepublik
denis aff
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup